Masih amankah Bali ?
Saat ini Bali mungkin bisa diibaratkan seperti film-film mafia-mafia hongkong yang dilakoni oleh Andy Lau / Cho Yung Fa. Seperti halnya difilm-film tersebut, kerap kali terjadi perkelahian antar kelompok genk untuk merebutkan daerah kekuasaan.
Tadinya saya cuman tau kalo itu terjadi di film aja, tapi sekarang kita bisa lihat semua itu terjadi di Bali. Bali yang kata banyak orang sebagai daerah atau tempat yang paling aman di Indonesia, ternyata kini telah dipenuhi oleh para preman-preman berdarah dingin.
Beberapa contoh misalnya :
- Kasus perkelahian antar preman di Denpasar Moon Cafe, menewaskan seorang anggota TNI yang hendak pulang dari dinas malam.
- Kasus perkelahian antar teman yang masih anggota genk yang sama pada pesta Tahun Baru di DJ Cafe, menewaskan 2 orang dan melukai 2 orang.
- Ini yang paling gres, yaitu terbunuhnya penjaga loker tiket terminal ubung oleh sekawanan preman.
Untuk point yang terakhir, menurut saya benar-benar sadis, korban dibuntuti dari belakang ketika hendak kerja, kemudian dicegat, dan secara tiba-tiba kepalanya ditebas dengan pedang dan badannya dipukul dengan balok dari belakang. Diantara semua kasus yang saya contohkan diatas, mungkin hanya sedikit contoh dari banyaknya perkelahian antar genk yang merebutkan daerah kekuasaan (baca: cafe dan hiburan malam) atau motif balas dendam.
Dulu ketika saya di sekolah dasar, saya memiliki seorang teman yang saat itu menurut saya mungkin bisa dikategorikan sebagai BCC (Bajingan Cilik - Cilik). Teman saya itu dengan bangga mengatakan bahwa dia mempunyai om yang menjadi anggota sebuah genk legendaris di kota Denpasar, namanya Armada Racun. Saat itu saya cuman tau beberapa genk anak-anak seperti BCC, Gaib (Gabungan anak imam bonjol), dan GAS (Gabungan Anak Sudirman) yang sering melakukan perkelahian. Kelakuan mereka mirip seperti kelakuan remaja-remaja sekarang belakangan ini, bergerombol kemudian menggunakan sepeda melakukan konvoi, dan terakhir nongkrong di Tiara Dewata (saat itu cuman Tiara aja adanya). Tindikan kriminal sering mereka lakukan, mulai dari memalak anak-anak lain yang sedang bermain “ding-dong” hingga mencuri sepeda.
Ketika saya smu disalah satu smu swasta di Denpasar, saya juga mengenal beberapa teman yang saat ini menjadi anggota-anggota genk di Denpasar, mulai dari si Maxi yang menjadi tangan kanan “AL” (infonya anak-anak kolong sudirman sekarang tergabung dalam Armada Racun) hingga si Opik (kalo ngga salah dia ikut “LB”, padahal dulu satu genk dengan “AL”) .
Ternyata jaman reformasi membawa angin segar untuk kalangan preman-preman ini, mereka semakin bebas bertindak dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Mungkin kalo dijaman Soeharto, mereka sudah masuk target “PETRUS” hehehehehehe, yah saya berharap semoga polisi bahkan TNI bisa menertibkan preman-preman ini. Daripada mereka berkelahi, kenapa tidak suruh menjaga Bali aja, biar ngga ada lagi bom-bom seperti dulu, ato ngga disuruh nge-blog aja sekalian (ntar malah ada preman blog lagi :p hehehehehehehehe)
Hahaha.. Preman blog! Wkwkwkw istilah baru ne Bli!
IMHO, kalo memang yang berwenang ngurusin ini cekatan dan netral kayaknya masalah ini cepet selesai kok! Nah masalahnya netral ga ya?
Responded on February 13th, 2008 at 1:18 am
#imsuryawan : bener Sur, semoga polisi netral ya, ngga tebang pilih. Saya setuju deh kalo ada “PETRUS” lagi :p
Responded on February 13th, 2008 at 1:27 am
adi:
stuju, sebaiknya mereka dirangkul aja.. *halah jadi homok*
Responded on February 13th, 2008 at 2:29 am
hasil dari jajaran pemimpin yang terdiri dari preman ya gini … yoooo pilkad nanti pilih preman aja :)
Responded on February 13th, 2008 at 4:28 am
rama:
#adi : ngerangkulnya mesti sambil bawa parang mas :p
#wandira : pernah waktu itu saya kunjungan ke kantor pemkab salah satu kabupaten di Bali, surprise! masak yang nyambut diruang receptionnya seorang preman pake baju hitam, baru disampingnya ada cewek-cewek manis. Mungkin juga itu karna sang bupati yang kata banyak orang, adalah seorang kepala preman dikabupaten itu
Responded on February 13th, 2008 at 7:47 am
Benar puk bli … pedalem bali ne … :(
Rasane bali jani sudah tidak seperti bali yang saya inget pidan :(
Responded on February 13th, 2008 at 7:31 pm
mantan preman hafal banget seluk beluk dunia perpremanan. :D
Responded on February 14th, 2008 at 7:45 am
#winardi : kalo orang tua bilang “nak kengken ade jak liu” :p
#21win : saya preman insaf bung hahahahahahahahaha
Responded on February 14th, 2008 at 12:03 pm
Iya dirangkul ajah, diajarin bikin website, ngeblog, ajarin affiliate marketing. Kan udah ada contohnya tuh, preman insaf yang berubah jadi blogger.
Responded on February 15th, 2008 at 2:12 am
SikumaN:
Saya Juga dulu punya temen Kuliah di Yogya sekarang kerja di bali
:D
Responded on February 20th, 2008 at 4:10 am
#Sikuman : saya juga punya teman diBandung dulu, badannya besar, penuh tatto. Tp dia preman kelamin kakakakkakakakakkakakakakkaa…woiiiii boooosssss punapi gatra? posisi dije mangkin niki?
Responded on February 20th, 2008 at 5:22 am
TIDAK… (cuma jawab judulne gen)
sing bise komenter liu
Responded on February 23rd, 2008 at 6:08 am
Wah kebetulan ketemu sitenya ini (liwat site fotonya Mas 21 Win). Ternyata semauanya juga aktif sebagai Blogger disana. Saya harap kalau saya datang lagi ke Bali keamanannya masih baik. Saya tiap hari masih book turis2 asing ke Bali dari Belanda (saya kerja di travel agency/tiket di Amsterdam), semua masih sangat senang berkunjung ke Bali.
Responded on February 25th, 2008 at 9:02 pm
Nano:
wah… apal bener…..
pasti dulu juga pernah dipalak dikawasan tiara dewata ya….
armada racun hidup kembali…? wah …
Responded on February 28th, 2008 at 8:48 am
Menurut saya Bali masih tetap aman asal kita sebagai penghuninya juga tidak neko” dalam hal apapun itu, kenapa??? Karena Bali sebenarnya memiliki banyak komponen keamanan yang saling mendukung, nah saya sebagai perwakilan salah satu diantara menghimbau agar kita sebagai masyarakat mari bersama-sama berantas premanisme.
Salam Kenal Bli….
Responded on February 28th, 2008 at 3:31 pm
dimana sich yg aman di negeri ini? klo bicara bali, rasanya premanisme di denpasar kalah sm kasus adat. rasa kebersamaan menyame braye orang bali seperti lenyap begitu saja seiring bertambah laparnya jiwa dan raga. masalah yg plg dasar hampir tidak bisa diatasi oleh sebagian penghuni pulau ini. PERUT LAPAR mana mungkin bisa berpikir rasional. Saya begitu merindukan masa2 1980 an….
Responded on March 23rd, 2008 at 11:56 am
Share This
18 Comments





Leave your Response, or Trackback
This entry receive 18 Comments